Langit California masih kelabu setelah 2 hari berturut-turut di berkahi butir-butir tirta yg seolah bersorak-sorai setelah sekian lama tak singgah di Kota kelahiran Zac efron, San Luis Obispo. "it’s been along time we had so much rain like this" wanita yang ku panggil mommy itu pun tersenyum sambil memandang anggunya percikan hujan yg mulai menerpa pintu kaca yg menghubungkan ruang makan dengan halaman belakang. "Really?" jawabku pendek. Ingatan ku melayang jauh meninggalkan Amerika serikat, terbang melewati dinginya laut atlantik, lalu perlahan menukik tajam di atas tanah eropa, jauh melesat seiring hembusan angin Asia & perlahan mendarat di sebuah kota yg termasyur dengan sebutan 'Rainy town’. Kota dimana aku menyimpan kenangan-kenangan masa kecilku, kota dimana untuk kali pertama aku menyaksikan butiran air mata menetes dari wanita yg melahirkan ku, kota dimana Aku menyembunyikan mimpi-mimpi ku. Ya, kota bernama Bogor itu sudah terlalu banyak merangkum setiap detil kehidupan ku. Sudah hampir 9 bulan aku meninggalkan dimana orang-orang yg kucintai, lahir, tumbuh bahkan mati meninggalkan bercak-bercak kenangan yg sukar dihilangkan. Aku rindu Ibu ku, aku ingat senyum terakhirnya di Bandara soekarno-hatta sesaat sebelum melepas kepergianku terbang ke negri adi daia itu. Wajahnya yg dibingkai jilbab coklat memerah ketika melihat kartu kecil yg menggantung di leher ku. Dikartu berukuran 6X4cm itu tertulis :
67
Eka Dian Pratiwi
Pod ; E Group ;40
Hosted in: California
Ku cium tanganya yg hampir keriput tepat sebelum aku baranjak meninggalkan wanita yg selama 17 tahun membesarkanku. Air mataku menetes berpadu dengan langkah kaki ku yg lunglai meninggalkan wanita yg paling kucintai itu. lalu aku kembali teringat ayah ku. Aku ingat beliau menyematkan pin garuda 3 hari sebelum keberangkatanku. Ku peluk tubuhnya yg mulai ringkih dimakan usia. Bibir tipisnya menempel di keningku & perlahan ia berbisik untaian kata terindah yg pernah kudengar ‘’ayah bangga dengan mu nak’’. Kata-kata itu melantun dengan indahnya khalayak puisi menawan karya Shakespeare. Bagi ku, pria yg ku panggil ayah itu adalah pujangga terhebat yg pernah ada. Sejenak gambaran wajah ayah ku bertansformasi 37 tahun lebih muda & perlahan berganti dengan wajah adik kesayangku bernama Bayu. Raut wajah anak kesayangan ibuku itu persis seperti gurat wajah ayah ku. Aku rindu adik ku & nada rendah ketika ia memanggilku ‘kakak’, aku rindu wajah ajaibnya ketika ia tertawa. Aku bahkan rindu tangisanya ketika ia merengek ketika menginginya sesuatu. ‘’ Are you ready? ‘’ Tanya wanita berambut pirang itu yg sekaligus membuyarkan 3 menit komersial tentang keluargaku di Indonesia. ‘’yup..’’ ku balas dengan segurat senyum tepat kutujukan ke arah mommy yg dengan sigap meraih kunci Honda CR-V nya yg menggantung dengan anggun di samping kunci Nissan Titan putih milik Daddy yg hampir tak pernah dikendarainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar