Bodoh namanya kalau hidup yang singkat ini terbuang sisa-sia hanya untuk hal-hal yang sebenernya ga penting. dan nyatanya hidup ini emang penuh dengan kebodohan. bodoh karena memikirkan harta, bodoh karna memikirkan tahta, bahkan yang paling sering terjadi adalah bodoh karena memikirkan cinta. what the heck with the name of love ! Cinta, cinta itu pembunuh ulung, pembunuh yang tanpa belas kasihan membunuh logika dan akal manusia. membutakan mata hati dan raga. setiap kata yang terurai dari mulut cinta tak lain adalah bisa yang tak ada penawarnya. gue ga tau kenapa definisi itu muncul dengan sendirinya justru disaat gue galau. galau yang gua pun ga tau apa sebabnya. galau yang dengan ajaibnya menyulap gue jadi pujangga instan & ketika perasaan ini hilang sihirnya pun ikut sirna dibawa apalah nama perasaan yang sekarang gue rasain. gue ga sedang patah hati, aneh rasanya untuk sebab yang ga jelas gue berpikir seperti ini. kadang gue mendefinisikan perasaan ini sebagai bentuk lain dari ketidak puasan atas diri dan hidup gue. tapi apa? apa yang kurang lengkap? apa yang hilang?. gua sadar kalau gue adalah manusia biasa yang emang pada hakikatnya ga akan pernah puas sama apa yang dimiliki saat ini. dalam hal ini gue ngerasa seperti seorang pemburu. tapi pemburu yang ga tau apa yang harus diburu. gue punya banyak mimpi, tapi gue ga tau yang mana yang gue tuju. & mirisnya, gue lah yang menjebak diri gue selama ini. gue terlalu fokus sama diri gue. yang ada dikepala gue adalah bagaimana caranya jadi ini dan itu. gue lupa akan semua hal kecuali tentang diri gue. padahal kalau ditelaah dari sudut pandang lainya, kepuasan hidup ga serta merta datang gitu aja setelah kita dapet apa yang kita ingin kan. karena emang kita ga akan pernah puas terhadap 1 pencapaian, setelahnya kita akan terus berburu & berburu sesuatu yang ga akan pernah bikin kita merasa puas. justru ketika kita menjadi serpihan kecil yang bermakna bagi orang lain lah kesempurnaan hidup itu datang dengan sendirinya. gue inget satu saat ketika perjalanan malam pulang dari brebes menuju bogor kira-kira jam 11 malam, disebuah pangkalan becak ada 1 pemandangan yang banyak ngajarin gue cara untuk bersyukur. seorang laki-laki yang hampir mencapai masa senjanya masih mengayuh becak tuanya disepanjang jalan yang sudah mulai sepi. dikursi penumpang duduk seorang bocah perempuan berselimut sarung yang sesekali menoleh ke arah bahu jalan. saat itu gue berasa ditampar. betapa ga bersyukurnya gue atas apa yang gue milikin saat ini. gue bersyukur bokap gue bukan seorang pengayuh becak yang harus banting tulang bahkan hingga hampir tengah malam. gue bersyukur nyokap gue bukan pedagang pecel atau bahkan peminta-minta yang harus rela menadahkan tangan demi kelangsungan hidupnya. gue bersyukur masih bisa sekolah bahkan dapet kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah di luar negeri.
-to be continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar